Pelangi Malam Hari [2]

1 06 2008

Perempuan itu.

Setiap malam kulihat ia selalu berdiri di teras, kadang duduk di kursinya. Aku juga melihatnya menyibukkan diri, menyapa tanaman di pekarangannya yang luas.

Pernah aku lihat ia berusaha meraih seputik kamboja putih di pojok taman. Hampir tak teraih. Berkali-kali ia mencobanya, akhirnya kena juga. Aku suka melihat nalurinya bekerja. Saat berhasil meraih bunga itu aku bahkan mendengarnya memekik girang. Ia seperti pejuang yang memilih berperang sendirian. Menuai hasil untuk dirinya. Puas.

Aku tahu ia sering mengamatiku dari jauh. Kepekaannya menangkap kegelisahanku membuatku tercekat. Caranya berkomunikasi dengan otakku kadang membuatku terperangah. Ia bahkan tahu aku sedang menunggu. Hanya ketidakyakinanku yang menghalanginya menjenguk lebih dalam tentang siapa yang aku tunggu. Barangkali, kalau aku yakin siapa yang kutunggu, ia akan menangkap sinyalnya dengan mudah.

Sempat dia kemari, ke ujung jalan ini, menghampiriku, menggamit bahuku dan bertanya.

“Kenapa kau berdiri saja di situ?”

Suaranya begitu lembut, sangat keibuan. Ia memang perempuan yang sudah matang. Aku bisa menebaknya bahkan dari kejauhan.

Kalian tahu, aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Aku kuatir ia mengusirku dari persimpangan itu. Aku masih letih.

“Kau sedang menunggu seseorang?”

Diam. Sunyi. Rupanya ia menunggu jawabanku. Aku mengangguk. Sebaiknya ia tahu bahwa aku sedang menunggu seseorang.

“Siapa yang kau tunggu?”

Ah. Pertanyaan klise yang tak juga terjawab di dalam hatiku. Klise karena terus saja pertanyaan itu mendera benakku, sementara aku sendiri tak tahu siapa yang kutunggu.

“Kau mau menunggunya di terasku? Di sana lebih dingin. Kau tidak akan tersengat matahari. Kau juga bisa sejenak beristirahat.”

Sebuah tawaran yang menarik. Ingin sekali rasanya aku mengikutinya, tapi aku tak ingin melepaskan pandangan dari jalan yang membentang di depanku. Seperti kataku, aku tak ingin melewatkan gadis yang melintas di jalanku.

Ia rupanya merasakan kegamanganku dan kemudian meninggalkanku, kembali ke rumahnya. Sejak saat itu, setiap hari aku melihatnya, siang, malam, di terasnya. Seperti menemaniku menanti.

Kami saling berjauhan. Ia di teras dan aku di ujung jalan. Ia sering mengamatiku, aku juga. Tidak, tidak semenyolok itu. Aku mengamatinya saat ia memalingkan wajah ke tempat lain. Seperti malam ini.

Malam ini begitu istimewa. Angin berdesir halus. Kurasakan kudukku sesekali tersapu hembusannya, membuatku merinding. Kepekatan malam terselimuti cahaya bulan. Tanpa menengok aku tahu, perempuan itu keluar dari rumahnya. Derit pintunya berbicara kepadaku. Beberapa saat, telingaku menangkap langkahnya turun meniti tangga. Ah, aku menduga, ia menuju kursi taman. Ia pasti duduk di sana, mengamatiku. Aku pura-pura tak memperhatikannya.

Detik demi detik berlalu. Tak terdengar suara lagi dari arahnya. Aku yakin ia belum masuk rumahnya. Penasaran, aku menoleh. Kulihat ia duduk di kursi taman. Kepalanya bersandar. Matanya terpejam. Tidurkah ia? Entah. Aku justru terbius oleh wajahnya yang menengadah, menantang bulan. Kulihat wajah bulat telurnya berpendar. Titik-titik keringat lembut di wajahnya memantulkan sinar dewi malam. Saat ia menggeliat, teratur bernafas, pendaran-pendaran di wajahnya ikut bergerak, menoreh warna.

Ia bak pelangi malam hari.

Pelangi malam. Cahayanya yang lembut membelahku menjadi dua. Aku yang semula dan aku yang sekarang. Belum pernah aku merasakan sensasi seperti ini. Rasanya aneh. Kegelisahanku tetap ada, tapi di saat yang sama aku rasakan sebuah kedamaian menyelusup, mengendap. Pelan. Dan aku tak bisa berkata-kata.

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

Catatan Penulis:
Untuk memahami cerita ini, aku sarankan kalian baca dulu “Laki-laki Itu”


Actions

Informations

6 responses to “Pelangi Malam Hari [2]”

1 06 2008
khairuddin (12:18:41) :

Mungkin yg agak terlewatkan hanyalah naluri seorang manusia biasa. Lelaki itu tak pernah makan. Padahal diujung jalan itu ada Warteg Bahari.
Sengaja apa terlewatkan Lang?

Aku ingin melihat mereka makan malam bersama walau hanya dengan sebungkus mie instant.

Dipersimpangan..melangkah sendiri..ombak coba pecahkan karang hatiku

Lang, ini sinospsis atau Flashback? Aku kurang ngerti.

1 06 2008
ilalang (13:18:46) :

hm, ini semacam reverse… melihat dari sebaliknya… kan kemarin kita sudah ngikutin dari kacamata perempuan… yang ini dari sudut pandang si laki-laki.

1 06 2008
andresurya (17:53:06) :

perempuan memang meiliki cerita yang selalu memberi inspirasi

1 06 2008
ilalang (20:50:49) :

aku anggap ini sebagai pujian… thx .. :)

1 06 2008
wenny (23:26:54) :

bagus..alurnya juga menarik…
kapan saya bisa bikin yang macam ini :mrgreen:

9 06 2008
Tommi (16:34:16) :

Ternyata bila diliat dari sudut pandang si LAKI-LAKI, dia pun mengalami konflik batin yg serius, hehehe…

Ga cuma dari si PEREMPUAN yg makan hati :D

Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>