Dilema [10]

19 06 2008

Aku hanya bisa terpaku. Kutatap ia lekat-lekat saat ia berjalan keluar dari kamar. Ingin rasanya melihatnya berbalik dan memintaku tinggal. Tapi aku tahu, kata-kata itu tak akan pernah terucap dari bibirnya. Tinggal bersamanya beberapa hari ini membuatku sangat memahami jiwanya. Ia tidak akan pernah meminta.

Sejenak aku terpekur diam. Tak berdaya. Akhirnya kuputuskan untuk mandi dulu, berharap guyuran air di kepalaku membuatku berpikir lebih jernih. Tapi ternyata tidak. Tetap saja kebimbangan menggelayut kuat di dalamku. Terlebih saat kusentuh kelembutan kain baju yang tadi disodorkannya. Tidak tega aku memakainya. Ini adalah baju yang dia siapkan untuk pasangan hidupnya.

Apakah itu aku?

Tak terjawab.

Perlahan aku pakai juga baju itu. Heran. Ukurannya tepat. Bahkan hingga panjang kaki dan lekukan kerung lengan yang pas. Sebuah kebetulan yang menyesakkan dada.

Ragu aku keluar dari kamar. Langkahku terhenti di pintu depan, saat kulihat perempuan itu duduk termenung di kursi teras. Berkas cahaya matahari pagi menerpa tubuhnya, menyajikan profilnya yang khas. Rambutnya tersanggul kecil, rapi. Hidungnya tak begitu mancung, tapi bentuknya sesuai dengan bulat wajahnya. Kulihat postur tubuhnya membungkuk lemah. Ringkih. Aku bisa merasakan dalam dirinya bergejolak perasaan yang tak menentu. Haru biru.

Ia seperti menyadari kehadiranku. Kulihat tubuhnya menegak. Rupanya, ia berusaha menutupi kerapuhannya. Sayang, aku sudah melihatnya, dan itu membuatku semakin terpojokkan dalam dilema. Dilema paling besar dalam hidupku: tinggal atau pergi.

Ia menegok ke arahku. Tatap matanya seperti terpukau atas sesuatu. Mungkin karena baju ini. Mungkin karena aku.

Tak terasa kedua tanganku terulur, menantikannya. Aku lihat setitik keraguan di matanya, tapi ia kemudian beranjak dan menyambut tanganku. Kugenggam kedua tangannya lembut. Aku mencoba merasakan getaran-getaran darinya. Ada. Getaran itu ada. Semakin aku tatap ia. Kujenguk hatinya. Benarkah ia menginginkanku pergi?

Ia menggangguk…

“Kau mau aku pergi?”

Ah, keluar juga suaraku.

“Katakanlah. Kau mau aku pergi?”

Aku ingin ia menjawabnya lugas. Tapi perempuan itu justru segera menunduk, menyembunyikan wajahnya. Ya, sesaat tadi sempat kulihat setetes air di ujung matanya. Aku sentuh dagunya, kuhela lembut hingga ia menatapku.

Kulihat bibirnya bergetar menahan tangis.

“Hhh…. Aku hanya tahu, kau sekian lama menantinya. Ini akhir penantianmu itu,” jawabnya terbata-bata setelah cukup lama diam.

Hhhh… jadi dia ingin aku pergi. Jadi lah. Hatinya telah tertutup untukku bukan?

Sejenak berlalu. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Bahkan saat ia menggandeng tanganku, melangkah bersama ke ujung jalan, aku masih berusaha memahami sikapnya.

Aku telah menyakiti hatinya. Aku telah membiarkannya masuk dalam hatiku dan mengetahui setiap perasaanku. Aku memang tak ingin menutupinya. Aku tak ingin berbohong kepadanya. Tak ada untungnya membohongi dirinya, bahwa masih ada keinginanku menemukan jawaban siapa dan seperti apa gadisku. Sepanjang hidupku aku akan terus penasaran sebelum menemukannya.

Inilah saat itu.

Saat langkah kami terhenti tepat di depan gadis itu, sebuah kesempurnaan tersaji tepat, persis, seperti gadis di benakku. Posturnya, kulitnya berpendar terpapar mentari. Dadaku berdegup. Sebuah jawaban yang aku tunggu sepanjang hidupku ada di depanku. Aku terpukau. Ia bukan di awang-awang lagi. Ini bukan tataran mimpi. Matanya yang lebar mengamatiku, selayak aku mengamatinya pula. Bibirnya tersenyum menyambutku. Entah, senyumnya begitu membuaiku. Sejak lama hatiku telah tertambat padanya. Ia seperti menyadari itu. Ia rentangkan tangannya, dan tanpa kusadari siapa yang memulai, kami telah berpelukan sangat erat.

Aku seperti terbius oleh sejuta keindahan. Lupa sekelilingku, bahkan perempuan itu.

Ikatan di hatiku seperti terlepas. Kelegaan membanjiri setiap relungnya. Kelegaan bahwa aku selama ini tidak mengada-ada. Bahwa memang ada jawaban dari setiap upayaku atas penantianku. Aku terbuai, melayang.

“Pergilah.”

Sehembus suara lirih menyadarkanku, mengembalikan kakiku, menginjak bumi. Suara perempuan itu. Suara yang mampu mengembalikan kesadaranku, mengembalikanku pada dua pilihan hati yang luarbiasa sulit.

Kulepaskan pelukan gadisku.

Aku mundur selangkah, mengambil jarak dari mereka berdua. Aku menatap mereka bergantian: Kemudaan dan kematangan. Impian dan kenyataan. Jawaban dan pertanyaan baru.

Kutelan sebuah kenyataan, keluasan hatiku tak mampu menelaah semua ini.

Aku beku.

Kubiarkan gadis itu menuntunku, menjauh, meninggalkan perempuan itu.

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

Catatan Penulis:
Untuk memahami cerita ini, aku sarankan kalian baca dulu “Laki-laki Itu”



Otakku Beku

18 06 2008

Hari ini otakku beku, tak mampu kuajak berpikir dan menulis. Bahkan ketika kupaksa sekalipun. Tokoh-tokoh cerita ini, laki-laki dan perempuan itu seperti menjauh, jijik dengan diriku.

Beri aku waktu untuk menyendiri sementara waktu. Relakan aku menghilang sebentar. Semoga mereka mau kembali ke pangkuanku.



Risau [9]

15 06 2008

Kegamanganku terbelah dalam dua polaritas yang saling bertentangan. Aku menjadi begitu perasa. Sering melamun, memikirkan ketidakberdayaan hatiku menyikapi masalah ini.

Aku ini laki-laki. Seharusnya otakku yang menuntunku, tapi kenapa hatiku yang meraja?

Aku ini orang bebas. Semestinya aku berhak mengambil keputusan apa saja; tinggal dengan perempuan itu, atau mencari gadisku. Tapi, kenapa aku jadi begitu ragu?

Detik berlalu sangat lambat.

Kalian tahu apa yang membuatku begitu merana?

Perempuan itu.

Dia menanyakan kepadaku, siapa yang aku tunggu. Aku yakin dia sudah mengetahuinya. Dia berpura-pura tidak mengetahuinya. Dia hanya minta aku menjawabnya. Dan aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Itu akan menyakitinya. Biarlah aku berpura-pura tidak tahu bahwa ia sudah menjenguk relung hatiku yang paling dalam, dimana gadisku berada.

Semalam ia menyerah. Sambil memelukku, ia mengatakan akan membantuku mencari gadisku.

Gila. Sinting. Tidak masuk akal.

Untuk apa dia mengatakan itu? Bukankah aku laki-laki yang dinantikannya? Kenapa dia berkeras mengatakan akan ikut mencari gadisku. Untukku. Bukankah ia seharusnya justru minta aku untuk berhenti mencari, dan tinggal dengannya. Untuk kebahagiaannya?

Sebersit jawaban melintas di benakku, membuatku menggigil… hhh… dia… dia…

Aku tak kuasa menahan beban emosi di dadaku. Airmataku runtuh tak bisa kubendung. Tubuhku demam. Kupeluk dia. Kusembunyikan wajahku di hangat dadanya. Tak sanggup aku menatap matanya yang begitu dalam dan penuh pengertian itu. Aku, cuma bisa menangis.

Malam itu mimpiku absurd. Ribuan cahaya berguratan tak beraturan. Tak ada bentuk solid sedikitpun yang bisa aku terjemahkan. Aku biarkan diriku tenggelam dalam lautan cahaya, hangat, dingin, bergantian membuai. Ragaku melayang setiap kali cahaya-cahaya itu berkelebatan halus, hingga sebentuk cahaya mengulas pipiku, usapannya yang hangat membangunkanku.

Aku buka mata, aku lihat seraut wajah menatapku lembut. Perempuan itu. Aku lihat ekspresinya yang tidak biasa. Aneh. Ada kelegaan, tapi sekaligus terkandung perih luarbiasa. Aku menatapnya bertanya.

“Seseorang menunggumu,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Semula aku tak tahu apa maksud perkataannya, hingga otak membangunkan seluruh kesadaranku. Aku tercekat. Dadaku berdegup kencang.

Gadisku datang?

Suaraku hilang. Aku menatapnya tak percaya. Aku bahkan tak sadar telah mencengkeram lengannya untuk mendapatkan jawaban.

“Ia menunggumu, di ujung jalan.”

Aku tak sanggup lagi mencerna kata-katanya. Otakku, hatiku, seluruh inderaku terpaku pada sebuah kenyataan bahwa gadisku memang ada. Wujud. Dia ada di ujung jalan, menungguku. Darahku berdesir kencang, bersicepat terpompa jantung. Ingin rasanya segera beranjak dari tempat tidur itu dan keluar untuk melihatnya. Melihat sebuah mimpi yang sekian lama menghantuiku terwujud. Sebuah kenyataan yang semula tak aku yakini ada. Kugeleng-gelengkan kepalaku agar lebih bisa menerima kenyataan itu. Ya. Aku harus menemuinya… harus…

Tapi… tubuhku serasa tertahan… perempuan ini… aku tidak tega meninggalkannya. Aku sangat memahami perasaannya.

Aku menatapnya. Aku mencoba menjenguk hatinya. Aku lihat ia berusaha mengendalikan diri, berusaha tersenyum, sementara aku tahu hatinya gamang luarbiasa.

“Ya, kau akan menemuinya. Kau bisa pergi bersamanya. Tapi, boleh aku minta sesuatu darimu?”

Aku menengarai ia akan mengatakan sesuatu.

“Mandilah, dan pakailah pakaian ini,” ujarnya sambil berdiri. Dia beranjak dan mengambil kotak di atas lemari. Aku tahu persis isinya apa.

Aku menatapnya tidak mengerti. Bukankah baju ini sangat sakral untuknya? Kenapa ia memintaku memakainya?

“Aku ingin kau siap menemuinya. Bergegaslah. Mandi. Siapkan dirimu. Aku menunggu di teras.”

Kali ini, kudengar suaranya begitu tenang. Sangat tenang. Aku bahkan tidak menangkap getarannya yang sesaat tadi sempat muncul. Ia ingin aku pergi. Sepertinya begitu. Hanya itu satu-satunya jawaban yang bisa kutelaah saat ini. Aku tidak diharapkan ada di sini. Dia ingin aku benar-benar pergi. Selamanya.

Kurasakan nyeri di ulu hatiku…

Telak.

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

Catatan Penulis:
Untuk memahami cerita ini, aku sarankan kalian baca dulu “Laki-laki Itu”



Naskahku Kembali: Thanks to Iway

14 06 2008

Siang ini aku buka email, ada naskah PEREMPUAN ITU: PELANGI MALAM HARI [2] dikirim oleh Iway. Tubuhku langsung meriang, demam. Yang Maha Hidup seperti memberiku satu hembusan nafasnya untuk kuhirup kembali. Dan aku bersyukur.

Ini kali pertama aku kehilangan naskah. Parahnya, karena keteledoranku sendiri. Sejak kemarin aku coba hubungi beberapa teman yang sekiranya bisa menolongku mencarinya. Dari ngoprek komputerku, cari-cari di server 3D, sampai bertanya kepada teman yang biasanya print sebelum baca. Tidak berhasil.

Dan siang ini pencarianku terjawab. Naskah itu dikirim kepadaku. Sudah aku postingkan kembali ke tempatnya. Aku bisa melanjutkan kembali tulisan ini.

Thanks to Iway.



EMERGENCY: Satu Posting Terhapus

13 06 2008

Dear ALL,

Aku sedang berduka. Naskah PEREMPUAN ITU: PELANGI MALAM HARI [2] terhapus. Semua karena keteledoranku sendiri. Aku sama sekali tidak punya back up, karena semua naskah di sini aku tulis langsung di blog, dan langsung posting.

Tadi pagi, aku masukkan link sambungan posting terbaru, tapi aku tidak cek, ternyata seluruh naskah di bagian atas ikut ter-delete. Padahal aku terlanjur klik publish. Jadilah satu naskah itu HILANG… *sigh*

Aku sangat berharap ada di antara kalian yang menyimpan copy atau apapun yang bisa membantuku memulihkan posting tersebut. Tolong, kirimkan kepadaku: ilalang01@yahoo.com.

Naskah itu SANGAT BERARTI untukku.