Aku Datang (3)

Tepian hutan masih menunjukkan misterinya di udara diingin subuh. Angin berdesau merayu dedaunan. Binatang malam bersiap tidur. Matahari masih malu menunjukkan kilaunya. Aku berjalan menyusur jalan setapak yang pernah kulalui ketika pertama kali datang ke tempat ini. Sejuk hawa pagi memenuhi paru-paruku, menghembuskan kesegaran, menyuntikkan semangat. Semakin dekat dengan rumah itu, kakiku seakan tak mau bersabar. Aku jadi setengah berlari. Ingin segera kulihat wajah perempuan itu. Perempuan yang aku tinggalkan beberapa waktu ini. Masih kuingat saat kutinggalkan dia, saat ia melepasku pergi dengan gadis itu. Tatap matanya yang sayu menghantuiku. Aku yakin bukan itu yang diinginkannya, tapi nyatanya dia mendorongku pergi. Hatiku mengumpat ketidakpekaanku menangkap perasaannya.

Dari ujung jalan rumah itu telah terlihat. Sekilas penampakannya masih sama dengan dulu, saat pertama kali kulihat rumah itu. Tapi setelah kucermati, hhmm, tidak, ada yang berbeda. Rumah itu tampak tak terawat, halamannya yang dulu menghijau rapi, kini ditumbuhi alang-alang. Rumah yang dulu mengantar kesejukan pada siapapun yang melihatnya, kini tampak kusam berdebu. Bahkan dari jauh aku seperti melihat rumah hantu, tak berpenghuni.

Hatiku tercekat. Oh tidak. Jangan-jangan perempuan itu telah pindah. Jangan-jangan dia pergi begitu saja meninggalkan tempat ini. Kemana aku harus mencarinya nanti? Mungkinkah aku bertemu kembali dengannya di sisa hidupku? Atau, jangan-jangan dia telah mati? Bukankah ketika kutinggal gurat matanya sayu, seperti kehilangan nyali untuk hidup? Gusti yang Maha Mengerti, apa yang telah kulakukan kepadanya?

Ah, terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab. Benakku tak mampu mencernanya.

Kakiku segera bergegas, berlari menuju rumah itu. Aku bahkan tak peduli hentakan rasa nyeri ketika jari kakiku terantuk akar pohon yang tumbuh melintang ke jalan. Semakin dekat dengan rumah itu, semakin berdebar jantungku. Rasa khawatir memuncak. Khawatir… cemas… galau… menggumpal seperti bola panas, melesak di ulu hatiku.

Beberapa meter dari pintu gerbang, langkahku terhenti. Bagian depan rumah itu terpampang di mataku. Pintunya terbuka lebar. Di dini hari begini tampak tak ada nyala sinar sedikitpun di sana. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan sisa derik jengkerik yang terlambat tidurpun tak mampu memecah senyap di rumah itu.

Kupicingkan mata, fokus ke teras dimana sebuah kursi tergeletak disana. Sesaat tadi, ketika bulan berpamitan surut, sempat kutangkap kerlip cahaya di sisi itu. Mataku yang mulai berkurang ketajamannya ini menangkap seonggok tubuh. Perempuan itu kah? Dia kah? Kerlip cahaya apa yang kulihat tadi? Cahaya yang sekarang tak tampak, seiring hilangnya bulan terperangkap matahari pagi.

Ah, lagi-lagi segunung pertanyaan memberati hatiku. Sudahlah, lebih baik aku masuk.

Kubuka pintu pagar ini perlahan. Kaitnya lepas. Engselnya berkeriut saat daun pintunya kudorong. Mataku terpaku ke tubuh itu. Semakin dekat, kukenali pakaian yang menyelimuti tubuh yang terlihat kurus itu. Pakaian yang dikenakan perempuan saat terakhir melepasku pergi! Hatiku mencelos sampai ke dasar. Bergegas aku mendekat.

Kulihat ia terkulai, tak ada tanda hidup pada sosok yang teronggok di hadapanku. Nyaris tak ada. Hanya sentakan nafas satu demi satu kulihat di dadanya yang agak terbuka. Payudaranya menyembul sebelah. Sama terkulainya. Mataku mau tak mau menyapu tubuh itu. Kain yang dikenakannya tersingkap lebar. Di kaki kursi kulihat celana dalam satin putih tergeletak. Hatiku terkesiap kala kulihat di pangkal paha perempuan itu terlihat jejak-jejak bekas basah, sebagian merah kehitaman yang tertutup debu, membentuk alur yang tak enak dilihat. Sperma atau darah?

Gusti yang Maha Memahami… apa yang terjadi pada perempuan ini? Kulihat serangkaian tanda pemerkosaan pada tubuh ringkih ini.

Aku berlutut di samping tubuhnya. Tak kuasa kuraih tubuh itu, kupangku, dan kurengkuh dalam pelukanku. Erat.Kusibakkan anak-anak rambut yang menutupi mukanya. Tanganku memegang pipinya, menepuknya lembut. Aku berusaha membangunkannya. Tepukanku semakin keras. Ia tak terjaga juga.

“Bangun… bangun lah kau…,” bisikku sambil mengguncang tubuhnya. Suaraku tercekat oleh isak tangis yang menyumbat tenggorokanku.

“Bukalah mata… please…,” seruku serak.

Diam. Beku.

Nyeri rasanya melihat tubuh itu terbujur tak bergerak. Rekam di otakku merekonstruksi kemungkinan yang terjadi kepadanya. Bisa jadi, sejak kami terakhir ketemu, ia masih mampu membawa tubuhnya pulang, duduk di kursi itu, dan tak mampu bangun lagi. Pasti ada pejalan yang lewat dan melihat perempuan itu terkapar. Tubuhnya yang lembut pasti membangkitkan birahi pejalan itu. Teriris hati membayangkan pejalan itu menemukan perempuan tanpa perlawanan dengan tubuh mulusnya, memperkosanya, melepas syahwatnya tanpa buru-buru.

Sesak dadaku mencerna kemungkinan itu. Nafasku tersengal. Gejolak di perut bahkan mendesak isinya untuk keluar, muntah. Rasa bersalah menghujam langsung ke nurani.

Andai aku tidak meninggalkan perempuan ini. Andai aku cukup peka menangkap betapa kepergianku akan berpengaruh buruk terhadap perempuan ini… hhh…

Dan kupeluk tubuhnya semakin erat. Tangis sesalku keluar sejadinya, meretas hening yang tiba-tiba terasa menyakitkan.

[1] [2] [3]

Posted in Pelangi Malam | 4 Comments

Aku Mencintainya (2)

Aku tajamkan otakku, kuasah hatiku untuk menyusun kalimat demi kalimat dengan benar. Ya, aku tidak ingin apapun yang aku katakan nanti berujung pada komplikasi masalah yang tidak perlu.
Kuhela nafas sekali lagi sebelum kumulai berkata-kata. Kutatap dia lekat. Kulihat ia menatapku, menunggu.

“Boleh aku bertanya kepadamu?”

“Tentu,” jawab gadisku cepat seolah tanpa berpikir.

“Kenapa kau tidak bertanya kepadaku, siapa namaku?”

“Hm…., itu pertanyaan yang sama yang ada di otakku..!”

“Begitu ya…, dan apa kau tidak berusaha mencari jawabannya?”

Lama gadis itu tidak menjawab. Kulihat ia membuang tatapannya jauh menembus batas langit. Bahunya yang semula terangkat anggun semakin landai, luruh.

“Hhh… tidak,” akhirnya ia menjawab lirih. Kutengarai rasa masygul mengendap perlahan dari jawabannya itu.

Sepi.

Tidak tega rasanya aku memecah keheningan yang tanpa terasa mencengkeram massa di sekitar kami berdua. Waktu melambat. Aku menanti gadis itu meneruskan kalimatnya. Aku yakin, jawaban “tidak” belumlah tuntas.

Perlahan ia mengangkat dagunya dan menatapku. Aku terhenyak. Tatapannya sayu. Matanya berkaca. Bibirnya bergetar menahan tangis – yang sekiraku – akan luarbiasa membanjir kalau dibiarkan lepas emosinya.

“Kau tahu… dari semua laki-laki yang telah bersinggungan hidupnya denganku, selalu menanyakan namaku. Bahkan saat pertama mereka beradu pandang… tapi kau… hhh… kau bahkan sampai saat ini seperti abai… dan itu menyakitkan… memerihkan hatiku… karena dari situ aku tahu, kau tak menganggapku ada… benar bukan?” ia berkata terbata.
Ganti, mataku yang sekarang nanar, mewakili ketercekatanku atas rasa yang sama mengusap kesadaranku. Jadi, selama ini kekosongan hatiku karena memang bilik-biliknya tak membuka, bahkan sekedar untuk gadis ini menjenguk isinya. Ia jadi nisbi. Ia jadi sekedar gambar yang berkelebat tanpa eksis. Betapa bersalahnya aku.

Serenggut demi serenggut aku memahami, betapa aku selama ini telah menghancurkan hidupnya hanya dengan terus memikirkannya.

Ah, kerja otak memang luarbiasa. Aku pernah mendengar sebuah teori tentang hukum ketertarikan. Ketika pikiran kita menegaskan sesuatu, maka ia akan mengirimkan sinyal ke dunia sehingga semesta ini dengan segala cara akan mewujudkan pikiran itu. Oke, anggap saja demikian. Pertanyaanya adalah, bagaimana kalau orang yang kita pikirkan itu juga memiliki pikiran lain yang tidak sejalan dengan diri kita?

Disharmoni. Pasti.

Dan, itulah yang sedang terjadi pada aku dan gadis itu saat ini. Aku begitu menginginkannya hadir, dia tidak. Aku selalu merasa benar dengan mengharapkannya ada. Dan itu membuatnya ‘terperangkap’ dalam pusaran keinginan yang tak bertepi, hingga ia menemukanku.

Kasihan dia.

Kembali aku jenguk hatiku. Aku telaah semua langkah panjang yang membawaku ke titik ini. Harusnya aku sejak lama tahu kalau ini akan jadi sebuah kekonyolan, meninggalkannya dan kemudian memikirkan tujuan baru. Apa yang salah? Seharusnya aku merasakan ketidakharmonisan kehendak ini lebih awal, tapi kenapa tidak?

Diam, kembali kepalaku dipenuhi ragam pertanyaan. Kucoba berdialog panjang lebar dengan nuraniku. Mencerna setiap langkah yang telah aku ambil, setiap keputusan yang terucapkan, dan bagaimana akibatnya untuk diriku. Dan aku harus mengakui, betapa egoisnya diriku. Aku tak mempedulikan apa yang dihadapi orang lain atas pemikiran dan kehendakku. Dan betapa tanda-tanda itu telah tampak bahkan jauh sebelum aku sampai di persimpangan tepi hutan itu, saat diriku bertemu dengan perempuan itu dan juga gadis ini.

Hhhh…

Perlahan tatapanku kembali mengusap gadis itu. Seakan merasakannya, ia segera berpaling ke arahku, menatapku.

“Kau ingin… aku… melepaskanmu?” tanyaku padanya

“Ya. Tapi sebuah pelepasan yang tuntas. Aku tidak ingin kau melepasku setengah hati karena itu akan percuma.”

“Aku tahu…,”

“Jadi?”

Sebersit ragu menyeruak, bisakah?

Lagi, keakuanku mengemuka, menuntut pemenuhan imajiner yang selama ini terus meruyak. Otakku sibuk mencerna ketiadaan imajinasi. Hatiku mendera untuk segera memahami realitas. Tak kuasa mengendalikan keduanya, alam bawah sadarku menuntunku halus; kuatur nafas dengan tarikan panjang, mataku terpejam, kepalaku perlahan tegak. Kubiarkan diriku mengembara sejenak dalam ketidakpastian, hingga sebuah bayangan tampak di batas sadar. Dan aku lantas tahu.

Kubuka mataku. Mata bening gadis itu menatapku. Menunggu sebuah jawaban. Bisa kulihat pengharapan di sana.

“Pergilah,” bibirku mengucap kata itu dalam-dalam, “kau tidak punya kewajiban apapun untukku, untuk berada di sini. Kau bebas menentukan hidupmu, dan aku tak ingin mempersulit apapun itu. Maafkanlah aku, yang dengan segala keegoisanku justru membuat langkahmu terperangkap dalam hidupku,”

Lancar sekali bicaraku. Entah, aku seperti mendapatkan sebuah kekuatan untuk menatapnya lekat dan melepaskannya… benar-benar melepasannya.

Kulihat mata gadis itu berbinar, seolah tak percaya dengan apa yang aku katakan. Dia berdiri dan meraih tanganku lembut, membuatku berdiri menghadapi dirinya. Ditatapnya aku lekat. Kulihat segurat syukur disana, kelegaan luarbiasa mendalam. Dan aku jadi malu atas keegoisanku selama ini.

“Tidak, jangan menunduk,” katanya sambil menyadarkanku untuk tetap tegak menatap sebuah kesalahan.

“Aku tak hendak meyalahkanmu. Kita ini cuma manusia dengan segala keinginan yang kadang tak terbatas. Aku gembira kau akhirnya dapat mengikhlaskanku, karena aku kemudian dapat melangkah tegak, memenuhi kemanusiaanku sendiri, sesuai tujuan hidupku… cuma…,”

Kulihat dia berhenti berkata.

“Cuma, apa?”

“Hm, hati-hatilah dengan keinginanmu,” lanjutnya terbata, seolah khawatir aku akan tersinggung dengan kata-katanya.

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Tidak, aku bahkan sama sekali tidak merasa terpojokkan dengan sarannya itu. Aku memahami, bahwa kata-kata itu memang harus aku tanamkan kuat-kuat di hatiku.

“Dan, satu lagi…,” lagi dia berhenti dalam kalimat tak usai.

“Apa?”

“Kembalilah ke dia, segera…” katanya lirih, nyaris tak terdengar.

“Eh?”

Dia tersenyum. Kepalanya mengangguk menunjukkan pemahamannya atas diriku. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, “Dia juga mencintaimu.”

Aku terpana. Tanganku yang masih dalam genggamannya mengeriut kaku. Benarkah?

Gadis itu kembali menatapku. Matanya menegaskan bahwa kata-katanya adalah sebuah kepastian.

Aku tersenyum. Sebuah pemahaman.

Gadis itu tersenyum. Sebuah perpisahan.

Dilepaskannya tanganku. Tapak kakinya melangkah menjauh. Tubuhnya semakin transparan… dan akhirnya… hilang.

Kutatap paparan landscap kosong di depanku sejenak, sekedar menghapus tuntas semua imaji tentang gadis itu yang tersisa. Kini, aku tahu persis, aku harus kembali kepada perempuan itu. Hatiku… tertambat di sana.

Tubuhku melesat… menerabas angin… memperpendek jarak. Aku pulang.

[1] [2] [3]

Posted in Pelangi Malam | 2 Comments

Bimbang Ragu (1)

Aku, laki-laki sempurna. Kumiliki semua. Jalan luas membentang di depanku, siap aku tapaki satu persatu. Seorang gadis cantik di sebelahku, ceria, menghibur dan selalu mengajakku bicara. Kurang apa lagi?

Tidak ada!

Lantas, kenapa hatiku begitu berat?

Kelegaan yang sesaat aku rasakan ketika bertemu dengan gadis ini pudar, menguap, terbungkus rasa kosong. Semakin jauh kaki ini melangkah, semakin hambar. Aku bahkan tak bisa memahami cara gadis itu bicara, terlalu cepat. Indera penglihatanku mulai mengabaikan kecantikannya yang segar. Pikiran dan hatinya? Aku tak bisa menjawab! Aku tidak tahu soal yang satu itu. Aku tidak mengenalnya. Tapi, bukankah aku baru sesaat bersamanya, pasti butuh waktu untuk mengenal seseorang bukan? Ya. Pasti! Aku mencoba menghibur diriku dengan jawaban itu.

Gadisku pun sepertinya mengalami kesulitan yang sama. Ia banyak bertanya, sekedar agar tahu apa yang kuinginkan. Dan aku harus menjawabnya, ia tak bisa membaca pikiranku. Ia juga meminta aku bertanya tentangnya, agar kami saling memahami.

Kalian pernah bermain puzzle? Kita harus menyatukan keping gambar, menyusunnya satu persatu hingga membentuk satu gambaran utuh. Kemarin, saat berada di rumah perempuan itu, aku berhasil menyatukan kepingan demi kepingan. Memang ada satu keping yang tercecer, kucari-cari, tapi tepat saat dia membangunkanku, dan mengatakan ada seorang gadis menungguku, kepingan itu telah berada digenggamanku. Tinggal aku letakkan pada tempatnya, bahkan tanpa harus bertemu gadisku. Sedangkan saat ini, aku seperti dihadapkan pada sebuah puzzle baru, yang gambar panduannya pun aku tak tahu! Parahnya, intuisiku pun menolak menebak gambar apa yang harus aku susun.

Ada yang salah.

Bukan, bukan ini yang aku inginkan.

Aku tiba-tiba tersengal. Aku seperti terjebak dalam arus yang aku buat sendiri, nyaris tenggelam.

“Hai… ”

Sebuah gamitan di tangan, membangunkanku dari lamunan.

“Kau sedang memikirkan apa?” gadisku bertanya.

Aku tak bisa menjawab. Tidak mau, tepatnya. Bukankah keputusanku juga untuk mengikutinya sampai titik ini?

“Jawablah pertanyaanku. Kulihat kau terus melamun. Kaki-kakimu melangkah ke depan, tapi hatimu tertinggal.”

Aku tercekat mendengar kata-katanya, “Darimana kau tahu itu?”

Ia tersenyum. Barangkali geli dengan kenaifanku.

“Aku ini juga perempuan. Aku tahu. Aku tidak menemukannya di sini,” ia menjawab sambil menunjuk dadaku.

Aku tergagap, diam, tak mampu berkata-kata. Ia benar.

“Ayolah, katakan apa yang kau rasakan, apa yang kau pikirkan.”

“Aku memikirkan perempuan itu.”

Ia tersenyum,

“Tidak hanya itu. Kau juga memikirkan hatimu yang tertinggal di sana.”

Aku terperangah oleh kelantangan kata-katanya. Kutatap wajah gadis itu. Kucari makna keterusterangannya. Adakah ia terluka mengatakan kenyataan yang baru saja ia sampaikan? Dan sekali lagi aku merasa sangat tolol karena tak bisa membaca isi hatinya.

“Tidak. Kau tak perlu membacaku. Aku akan mengatakannya…”

Aku terdiam, terpaku. Apapun, dalam diriku merasakan, tak lama lagi aku pasti akan menyisakan segurat kesedihan di hati gadis itu.

Lagi, ia tersenyum melihat keraguanku.

“Duduk di situ yuk!” katanya sambil menggandengku ke tepi jalan, duduk di antara akar-akar pohon yang bertonjolan.

Matahari tak begitu terik. Ia hanya mengusap lembut tepian-tepian daun pohon, menyisakan sekumpulan bayangan rindang yang menyelimuti kami.

Aku duduk bersandar di batang pohon itu, memejamkan mata. Aku resapi aura tenang yang dipancarkannya.

“…Kau tahu kenapa aku datang kepadamu?” suara gadis itu membuyarkan kenikmatan sesaatku.

Aku buka mata. Kutatap wajahnya yang bening. Menggeleng.

“Karena kau terus memanggilku,” ujarnya lembut.

Hening, aku berharap dia meneruskan kalimatnya, menjelaskan apa maksud kata-katanya.

“Apa maksudmu?”

“Bukankah kau selalu menungguku selama hidupmu?”

“Bagaimana itu menjelaskan keterpanggilan itu?”

“Entah. Angin terus menderaku dengan desaunya, menyuarakan tentangmu. Langit juga terus menggenggam asamu dan melemparkannya ke pelukanku. Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya merasakannya, bahkan sejak aku lahir. Setiap kali aku ingin berjalan ke arah yang aku tuju, selalu saja buyar. Kaki akan membawaku ke arah yang berbeda. Mula-mula aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi seiring pemahamanku terhadap semesta ini, aku tahu bahwa ada seseorang yang menungguku. Dan itu kau.”

Hhh… tiba-tiba dadaku terasa sesak. Lagi, rupanya di luar kuasaku aku telah memenjarakan satu jiwa. Jiwa yang seharusnya bebas dari ikatan diriku yang bukan apa-apa ini.

“Kau… menyesal… kita ketemu?” ragu aku bertanya.

Sebuah senyuman tersungging di sudut bibir gadis itu. Kulihat kepalanya menggeleng lembut.

“Untuk suatu alasan, tidak… Kau?”

“Aku?”

“Ya… kau. Apa kau menyesal akhirnya menemukanku?” tanya gadis itu dengan suara bening.

“Entahlah…,” ragu aku menjawab.

“Kau tidak tahu atau sekedar tidak ingin mengatakan apa yang ada di benakmu?” lagi suara beningnya memecah kesadaranku, menohokku dalam.

“Kau ingin aku jujur?”

Lagi, sebuah anggukan.

Hhh… dadaku menyesak. Inilah saatnya menyingkap perasaan yang terus bergejolak di dadaku beberapa hari ini. Kutatap mata gadis itu. Kucari setitik saja keraguannya mendengarkan kejujuran yang akan kuungkap. Tapi, tak kutemukan itu. Dia seperti telah berketetapan hati untuk mendengar kebenaran hatiku, sepahit apapun itu.

Aku sendiri? Siapkah aku untuk ‘telanjang’ di depannya?

Kubiarkan waktu berdetak lalu dalam keheningan sesaat… hingga aku siap untuk berkata-kata.

[1] [2] [3]

(untuk memahami cerita ini, kalian bacalah dulu “Laki-laki Itu” dan “Perempuan Itu” secara berurutan)

Posted in Pelangi Malam | 6 Comments

Titik Balik

ALL, lama, cerita ini terhenti…

“Laki-laki Itu” dan “Perempuan Itu” sudah tertulis hampir setahun berselang.

Banyak teman misuh-misuh karena keteledoranku berhenti menulis dan meneruskan tulisan ini. Mereka menuduhku tidak bertanggung jawab. Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi. Aku sudah menuliskannya dan hampir selesai. Bahkan aku tinggal selangkah mengirimkannya dalam sebuah lomba tulis noverl yang diselenggarakan sebuah majalah perempuan.

Sayang, pada suatu pagi, ketika aku membuka komputer langganan, dimana semua database tulisanku ada, tampilan depannya telah sangat berubah. Semua software berganti baru. Rupanya si pemilik komputer baru saja menambah memory sekaligus mereformat semua software. Bagus sih, aku suka itu. Cuma, dadaku langsung sesak ketika tahu folder tulisanku sama sekali tidak ada!

Kalian tahu reaksiku? MENANGIS… dalam diam.

Ini memang bukan komputerku sendiri. Seorang teman telah berbaik hati membiarkan aku mengakses dan mempergunakannya sesuka hati. Sayang, ia alpa bahwa aku punya sebuah folder yang penuh dengan hasil kerja: tulisan, artikel, image, dll. Ia pun menyesal luarbiasa saat tahu apa yang telah ia lakukan. Apalagi tahu mimikku yang begitu sayu dengan sesal kehilangan.

Apapun, aku tahu, itu bukan alasan aku harus berhenti bukan?

Jadi, setelah aku sembuhkan rasa masygulku. Aku buang rasa sedihku. Kembali aku panggil sisa-sisa alur cerita yang masih bisa kurangkai dalam tulisan Trilogi Pelangi Malam ini.

Dan seperti kata kishandono, sepertinya sesi cerita “Perempuan Itu” aku akhiri hingga episode 10 saja. Aku akan mulai tulisan ini dalam logi 3: Pelangi Malam.

Doakan aku berhasil memanggil kembali semua t okoh yang aku perlukan di logi kali ini.

salam,
Ilalang

Posted in Kabar Ilalang | 4 Comments

Dilema [10]

Aku hanya bisa terpaku. Kutatap ia lekat-lekat saat ia berjalan keluar dari kamar. Ingin rasanya melihatnya berbalik dan memintaku tinggal. Tapi aku tahu, kata-kata itu tak akan pernah terucap dari bibirnya. Tinggal bersamanya beberapa hari ini membuatku sangat memahami jiwanya. Ia tidak akan pernah meminta.

Sejenak aku terpekur diam. Tak berdaya. Akhirnya kuputuskan untuk mandi dulu, berharap guyuran air di kepalaku membuatku berpikir lebih jernih. Tapi ternyata tidak. Tetap saja kebimbangan menggelayut kuat di dalamku. Terlebih saat kusentuh kelembutan kain baju yang tadi disodorkannya. Tidak tega aku memakainya. Ini adalah baju yang dia siapkan untuk pasangan hidupnya.

Apakah itu aku?

Tak terjawab.

Perlahan aku pakai juga baju itu. Heran. Ukurannya tepat. Bahkan hingga panjang kaki dan lekukan kerung lengan yang pas. Sebuah kebetulan yang menyesakkan dada.

Ragu aku keluar dari kamar. Langkahku terhenti di pintu depan, saat kulihat perempuan itu duduk termenung di kursi teras. Berkas cahaya matahari pagi menerpa tubuhnya, menyajikan profilnya yang khas. Rambutnya tersanggul kecil, rapi. Hidungnya tak begitu mancung, tapi bentuknya sesuai dengan bulat wajahnya. Kulihat postur tubuhnya membungkuk lemah. Ringkih. Aku bisa merasakan dalam dirinya bergejolak perasaan yang tak menentu. Haru biru.

Ia seperti menyadari kehadiranku. Kulihat tubuhnya menegak. Rupanya, ia berusaha menutupi kerapuhannya. Sayang, aku sudah melihatnya, dan itu membuatku semakin terpojokkan dalam dilema. Dilema paling besar dalam hidupku: tinggal atau pergi.

Ia menegok ke arahku. Tatap matanya seperti terpukau atas sesuatu. Mungkin karena baju ini. Mungkin karena aku.

Tak terasa kedua tanganku terulur, menantikannya. Aku lihat setitik keraguan di matanya, tapi ia kemudian beranjak dan menyambut tanganku. Kugenggam kedua tangannya lembut. Aku mencoba merasakan getaran-getaran darinya. Ada. Getaran itu ada. Semakin aku tatap ia. Kujenguk hatinya. Benarkah ia menginginkanku pergi?

Ia menggangguk…

“Kau mau aku pergi?”

Ah, keluar juga suaraku.

“Katakanlah. Kau mau aku pergi?”

Aku ingin ia menjawabnya lugas. Tapi perempuan itu justru segera menunduk, menyembunyikan wajahnya. Ya, sesaat tadi sempat kulihat setetes air di ujung matanya. Aku sentuh dagunya, kuhela lembut hingga ia menatapku.

Kulihat bibirnya bergetar menahan tangis.

“Hhh…. Aku hanya tahu, kau sekian lama menantinya. Ini akhir penantianmu itu,” jawabnya terbata-bata setelah cukup lama diam.

Hhhh… jadi dia ingin aku pergi. Jadi lah. Hatinya telah tertutup untukku bukan?

Sejenak berlalu. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Bahkan saat ia menggandeng tanganku, melangkah bersama ke ujung jalan, aku masih berusaha memahami sikapnya.

Aku telah menyakiti hatinya. Aku telah membiarkannya masuk dalam hatiku dan mengetahui setiap perasaanku. Aku memang tak ingin menutupinya. Aku tak ingin berbohong kepadanya. Tak ada untungnya membohongi dirinya, bahwa masih ada keinginanku menemukan jawaban siapa dan seperti apa gadisku. Sepanjang hidupku aku akan terus penasaran sebelum menemukannya.

Inilah saat itu.

Saat langkah kami terhenti tepat di depan gadis itu, sebuah kesempurnaan tersaji tepat, persis, seperti gadis di benakku. Posturnya, kulitnya berpendar terpapar mentari. Dadaku berdegup. Sebuah jawaban yang aku tunggu sepanjang hidupku ada di depanku. Aku terpukau. Ia bukan di awang-awang lagi. Ini bukan tataran mimpi. Matanya yang lebar mengamatiku, selayak aku mengamatinya pula. Bibirnya tersenyum menyambutku. Entah, senyumnya begitu membuaiku. Sejak lama hatiku telah tertambat padanya. Ia seperti menyadari itu. Ia rentangkan tangannya, dan tanpa kusadari siapa yang memulai, kami telah berpelukan sangat erat.

Aku seperti terbius oleh sejuta keindahan. Lupa sekelilingku, bahkan perempuan itu.

Ikatan di hatiku seperti terlepas. Kelegaan membanjiri setiap relungnya. Kelegaan bahwa aku selama ini tidak mengada-ada. Bahwa memang ada jawaban dari setiap upayaku atas penantianku. Aku terbuai, melayang.

“Pergilah.”

Sehembus suara lirih menyadarkanku, mengembalikan kakiku, menginjak bumi. Suara perempuan itu. Suara yang mampu mengembalikan kesadaranku, mengembalikanku pada dua pilihan hati yang luarbiasa sulit.

Kulepaskan pelukan gadisku.

Aku mundur selangkah, mengambil jarak dari mereka berdua. Aku menatap mereka bergantian: Kemudaan dan kematangan. Impian dan kenyataan. Jawaban dan pertanyaan baru.

Kutelan sebuah kenyataan, keluasan hatiku tak mampu menelaah semua ini.

Aku beku.

Kubiarkan gadis itu menuntunku, menjauh, meninggalkan perempuan itu.

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

Catatan Penulis:
Untuk memahami cerita ini, aku sarankan kalian baca dulu “Laki-laki Itu”

Posted in Perempuan Itu | Tagged | 39 Comments