Tepian hutan masih menunjukkan misterinya di udara diingin subuh. Angin berdesau merayu dedaunan. Binatang malam bersiap tidur. Matahari masih malu menunjukkan kilaunya. Aku berjalan menyusur jalan setapak yang pernah kulalui ketika pertama kali datang ke tempat ini. Sejuk hawa pagi memenuhi paru-paruku, menghembuskan kesegaran, menyuntikkan semangat. Semakin dekat dengan rumah itu, kakiku seakan tak mau bersabar. Aku jadi setengah berlari. Ingin segera kulihat wajah perempuan itu. Perempuan yang aku tinggalkan beberapa waktu ini. Masih kuingat saat kutinggalkan dia, saat ia melepasku pergi dengan gadis itu. Tatap matanya yang sayu menghantuiku. Aku yakin bukan itu yang diinginkannya, tapi nyatanya dia mendorongku pergi. Hatiku mengumpat ketidakpekaanku menangkap perasaannya.
Dari ujung jalan rumah itu telah terlihat. Sekilas penampakannya masih sama dengan dulu, saat pertama kali kulihat rumah itu. Tapi setelah kucermati, hhmm, tidak, ada yang berbeda. Rumah itu tampak tak terawat, halamannya yang dulu menghijau rapi, kini ditumbuhi alang-alang. Rumah yang dulu mengantar kesejukan pada siapapun yang melihatnya, kini tampak kusam berdebu. Bahkan dari jauh aku seperti melihat rumah hantu, tak berpenghuni.
Hatiku tercekat. Oh tidak. Jangan-jangan perempuan itu telah pindah. Jangan-jangan dia pergi begitu saja meninggalkan tempat ini. Kemana aku harus mencarinya nanti? Mungkinkah aku bertemu kembali dengannya di sisa hidupku? Atau, jangan-jangan dia telah mati? Bukankah ketika kutinggal gurat matanya sayu, seperti kehilangan nyali untuk hidup? Gusti yang Maha Mengerti, apa yang telah kulakukan kepadanya?
Ah, terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab. Benakku tak mampu mencernanya.
Kakiku segera bergegas, berlari menuju rumah itu. Aku bahkan tak peduli hentakan rasa nyeri ketika jari kakiku terantuk akar pohon yang tumbuh melintang ke jalan. Semakin dekat dengan rumah itu, semakin berdebar jantungku. Rasa khawatir memuncak. Khawatir… cemas… galau… menggumpal seperti bola panas, melesak di ulu hatiku.
Beberapa meter dari pintu gerbang, langkahku terhenti. Bagian depan rumah itu terpampang di mataku. Pintunya terbuka lebar. Di dini hari begini tampak tak ada nyala sinar sedikitpun di sana. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan sisa derik jengkerik yang terlambat tidurpun tak mampu memecah senyap di rumah itu.
Kupicingkan mata, fokus ke teras dimana sebuah kursi tergeletak disana. Sesaat tadi, ketika bulan berpamitan surut, sempat kutangkap kerlip cahaya di sisi itu. Mataku yang mulai berkurang ketajamannya ini menangkap seonggok tubuh. Perempuan itu kah? Dia kah? Kerlip cahaya apa yang kulihat tadi? Cahaya yang sekarang tak tampak, seiring hilangnya bulan terperangkap matahari pagi.
Ah, lagi-lagi segunung pertanyaan memberati hatiku. Sudahlah, lebih baik aku masuk.
Kubuka pintu pagar ini perlahan. Kaitnya lepas. Engselnya berkeriut saat daun pintunya kudorong. Mataku terpaku ke tubuh itu. Semakin dekat, kukenali pakaian yang menyelimuti tubuh yang terlihat kurus itu. Pakaian yang dikenakan perempuan saat terakhir melepasku pergi! Hatiku mencelos sampai ke dasar. Bergegas aku mendekat.
Kulihat ia terkulai, tak ada tanda hidup pada sosok yang teronggok di hadapanku. Nyaris tak ada. Hanya sentakan nafas satu demi satu kulihat di dadanya yang agak terbuka. Payudaranya menyembul sebelah. Sama terkulainya. Mataku mau tak mau menyapu tubuh itu. Kain yang dikenakannya tersingkap lebar. Di kaki kursi kulihat celana dalam satin putih tergeletak. Hatiku terkesiap kala kulihat di pangkal paha perempuan itu terlihat jejak-jejak bekas basah, sebagian merah kehitaman yang tertutup debu, membentuk alur yang tak enak dilihat. Sperma atau darah?
Gusti yang Maha Memahami… apa yang terjadi pada perempuan ini? Kulihat serangkaian tanda pemerkosaan pada tubuh ringkih ini.
Aku berlutut di samping tubuhnya. Tak kuasa kuraih tubuh itu, kupangku, dan kurengkuh dalam pelukanku. Erat.Kusibakkan anak-anak rambut yang menutupi mukanya. Tanganku memegang pipinya, menepuknya lembut. Aku berusaha membangunkannya. Tepukanku semakin keras. Ia tak terjaga juga.
“Bangun… bangun lah kau…,” bisikku sambil mengguncang tubuhnya. Suaraku tercekat oleh isak tangis yang menyumbat tenggorokanku.
“Bukalah mata… please…,” seruku serak.
Diam. Beku.
Nyeri rasanya melihat tubuh itu terbujur tak bergerak. Rekam di otakku merekonstruksi kemungkinan yang terjadi kepadanya. Bisa jadi, sejak kami terakhir ketemu, ia masih mampu membawa tubuhnya pulang, duduk di kursi itu, dan tak mampu bangun lagi. Pasti ada pejalan yang lewat dan melihat perempuan itu terkapar. Tubuhnya yang lembut pasti membangkitkan birahi pejalan itu. Teriris hati membayangkan pejalan itu menemukan perempuan tanpa perlawanan dengan tubuh mulusnya, memperkosanya, melepas syahwatnya tanpa buru-buru.
Sesak dadaku mencerna kemungkinan itu. Nafasku tersengal. Gejolak di perut bahkan mendesak isinya untuk keluar, muntah. Rasa bersalah menghujam langsung ke nurani.
Andai aku tidak meninggalkan perempuan ini. Andai aku cukup peka menangkap betapa kepergianku akan berpengaruh buruk terhadap perempuan ini… hhh…
Dan kupeluk tubuhnya semakin erat. Tangis sesalku keluar sejadinya, meretas hening yang tiba-tiba terasa menyakitkan.