istana pasir

April 29th, 2009

Bimbang Ragu (1)

Posted by ilalang in Pelangi Malam

Aku, laki-laki sempurna. Kumiliki semua. Jalan luas membentang di depanku, siap aku tapaki satu persatu. Seorang gadis cantik di sebelahku, ceria, menghibur dan selalu mengajakku bicara. Kurang apa lagi?

Tidak ada!

Lantas, kenapa hatiku begitu berat?

Kelegaan yang sesaat aku rasakan ketika bertemu dengan gadis ini pudar, menguap, terbungkus rasa kosong. Semakin jauh kaki ini melangkah, semakin hambar. Aku bahkan tak bisa memahami cara gadis itu bicara, terlalu cepat. Indera penglihatanku mulai mengabaikan kecantikannya yang segar. Pikiran dan hatinya? Aku tak bisa menjawab! Aku tidak tahu soal yang satu itu. Aku tidak mengenalnya. Tapi, bukankah aku baru sesaat bersamanya, pasti butuh waktu untuk mengenal seseorang bukan? Ya. Pasti! Aku mencoba menghibur diriku dengan jawaban itu.

Gadisku pun sepertinya mengalami kesulitan yang sama. Ia banyak bertanya, sekedar agar tahu apa yang kuinginkan. Dan aku harus menjawabnya, ia tak bisa membaca pikiranku. Ia juga meminta aku bertanya tentangnya, agar kami saling memahami.

Kalian pernah bermain puzzle? Kita harus menyatukan keping gambar, menyusunnya satu persatu hingga membentuk satu gambaran utuh. Kemarin, saat berada di rumah perempuan itu, aku berhasil menyatukan kepingan demi kepingan. Memang ada satu keping yang tercecer, kucari-cari, tapi tepat saat dia membangunkanku, dan mengatakan ada seorang gadis menungguku, kepingan itu telah berada digenggamanku. Tinggal aku letakkan pada tempatnya, bahkan tanpa harus bertemu gadisku. Sedangkan saat ini, aku seperti dihadapkan pada sebuah puzzle baru, yang gambar panduannya pun aku tak tahu! Parahnya, intuisiku pun menolak menebak gambar apa yang harus aku susun.

Ada yang salah.

Bukan, bukan ini yang aku inginkan.

Aku tiba-tiba tersengal. Aku seperti terjebak dalam arus yang aku buat sendiri, nyaris tenggelam.

“Hai… ”

Sebuah gamitan di tangan, membangunkanku dari lamunan.

“Kau sedang memikirkan apa?” gadisku bertanya.

Aku tak bisa menjawab. Tidak mau, tepatnya. Bukankah keputusanku juga untuk mengikutinya sampai titik ini?

“Jawablah pertanyaanku. Kulihat kau terus melamun. Kaki-kakimu melangkah ke depan, tapi hatimu tertinggal.”

Aku tercekat mendengar kata-katanya, “Darimana kau tahu itu?”

Ia tersenyum. Barangkali geli dengan kenaifanku.

“Aku ini juga perempuan. Aku tahu. Aku tidak menemukannya di sini,” ia menjawab sambil menunjuk dadaku.

Aku tergagap, diam, tak mampu berkata-kata. Ia benar.

“Ayolah, katakan apa yang kau rasakan, apa yang kau pikirkan.”

“Aku memikirkan perempuan itu.”

Ia tersenyum

“Tidak hanya itu. Kau juga memikirkan hatimu yang tertinggal di sana.”

Aku terperangah oleh kelantangan kata-katanya. Kutatap wajah gadis itu. Kucari makna keterusterangannya. Adakah ia terluka mengatakan kenyataan yang baru saja ia sampaikan? Dan sekali lagi aku merasa sangat tolol karena tak bisa membaca isi hatinya.

“Tidak. Kau tak perlu membacaku. Aku akan mengatakannya…”

Aku terdiam, terpaku. Apapun, dalam diriku merasakan, tak lama lagi aku pasti akan menyisakan segurat kesedihan di hati gadis itu.

Lagi, ia tersenyum melihat keraguanku.

“Duduk di situ yuk!” katanya sambil menggandengku ke tepi jalan, duduk di antara akar-akar pohon yang bertonjolan.

Matahari tak begitu terik. Ia hanya mengusap lembut tepian-tepian daun pohon, menyisakan sekumpulan bayangan rindang yang menyelimuti kami.

Aku duduk bersandar di batang pohon itu, memejamkan mata. Aku resapi aura tenang yang dipancarkannya.

“…Kau tahu kenapa aku datang kepadamu?” suara gadis itu membuyarkan kenikmatan sesaatku.

Aku buka mata. Kutatap wajahnya yang bening. Menggeleng.

“Karena kau terus memanggilku,” ujarnya lembut.

Hening, aku berharap dia meneruskan kalimatnya, menjelaskan apa maksud kata-katanya.

“Apa maksudmu?”

“Bukankah kau selalu menungguku selama hidupmu?”

“Bagaimana itu menjelaskan keterpanggilan itu?”

“Entah. Angin terus menderaku dengan desaunya, menyuarakan tentangmu. Langit juga terus menggenggam asamu dan melemparkannya ke pelukanku. Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya merasakannya, bahkan sejak aku lahir. Setiap kali aku ingin berjalan ke arah yang aku tuju, selalu saja buyar. Kaki akan membawaku ke arah yang berbeda. Mula-mula aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi seiring pemahamanku terhadap semesta ini, aku tahu bahwa ada seseorang yang menungguku. Dan itu kau.”

Hhh… tiba-tiba dadaku terasa sesak. Lagi, rupanya di luar kuasaku aku telah memenjarakan satu jiwa. Jiwa yang seharusnya bebas dari ikatan diriku yang bukan apa-apa ini.

“Kau… menyesal… kita ketemu?” ragu aku bertanya.

Sebuah senyuman tersungging di sudut bibir gadis itu. Kulihat kepalanya menggeleng lembut.

“Untuk suatu alasan, tidak… Kau?”

“Aku?”

“Ya… kau. Apa kau menyesal akhirnya menemukanku?” tanya gadis itu dengan suara bening.

“Entahlah…,” ragu aku menjawab.

“Kau tidak tahu atau sekedar tidak ingin mengatakan apa yang ada di benakmu?” lagi suara beningnya memecah kesadaranku, menohokku dalam.

“Kau ingin aku jujur?”

Lagi, sebuah anggukan.

Hhh… dadaku menyesak. Inilah saatnya menyingkap perasaan yang terus bergejolak di dadaku beberapa hari ini. Kutatap mata gadis itu. Kucari setitik saja keraguannya mendengarkan kejujuran yang akan kuungkap. Tapi, tak kutemukan itu. Dia seperti telah berketetapan hati untuk mendengar kebenaran hatiku, sepahit apapun itu.

Aku sendiri? Siapkah aku untuk ‘telanjang’ di depannya?

Kubiarkan waktu berdetak lalu dalam keheningan sesaat… hingga aku siap untuk berkata-kata.

(untuk memahami cerita ini, kalian bacalah dulu “Laki-laki Itu” dan “Perempuan Itu” secara berurutan)

April 29th, 2009

Titik Balik

Posted by ilalang in Kabar Ilalang

ALL, lama, cerita ini terhenti…

“Laki-laki Itu” dan “Perempuan Itu” sudah tertulis hampir setahun berselang.

Banyak teman misuh-misuh karena keteledoranku berhenti menulis dan meneruskan tulisan ini. Mereka menuduhku tidak bertanggung jawab. Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi. Aku sudah menuliskannya dan hampir selesai. Bahkan aku tinggal selangkah mengirimkannya dalam sebuah lomba tulis noverl yang diselenggarakan sebuah majalah perempuan.

Sayang, pada suatu pagi, ketika aku membuka komputer langganan, dimana semua database tulisanku ada, tampilan depannya telah sangat berubah. Semua software berganti baru. Rupanya si pemilik komputer baru saja menambah memory sekaligus mereformat semua software. Bagus sih, aku suka itu. Cuma, dadaku langsung sesak ketika tahu folder tulisanku sama sekali tidak ada!

Kalian tahu reaksiku? MENANGIS… dalam diam.

Ini memang bukan komputerku sendiri. Seorang teman telah berbaik hati membiarkan aku mengakses dan mempergunakannya sesuka hati. Sayang, ia alpa bahwa aku punya sebuah folder yang penuh dengan hasil kerja: tulisan, artikel, image, dll. Ia pun menyesal luarbiasa saat tahu apa yang telah ia lakukan. Apalagi tahu mimikku yang begitu sayu dengan sesal kehilangan.

Apapun, aku tahu, itu bukan alasan aku harus berhenti bukan?

Jadi, setelah aku sembuhkan rasa masygulku. Aku buang rasa sedihku. Kembali aku panggil sisa-sisa alur cerita yang masih bisa kurangkai dalam tulisan Trilogi Pelangi Malam ini.

Dan seperti kata kishandono, sepertinya sesi cerita “Perempuan Itu” aku akhiri hingga episode 10 saja. Aku akan mulai tulisan ini dalam logi 3: Pelangi Malam.

Doakan aku berhasil memanggil kembali semua t okoh yang aku perlukan di logi kali ini.

salam,
Ilalang

June 19th, 2008

Dilema [10]

Posted by ilalang in Perempuan Itu

Aku hanya bisa terpaku. Kutatap ia lekat-lekat saat ia berjalan keluar dari kamar. Ingin rasanya melihatnya berbalik dan memintaku tinggal. Tapi aku tahu, kata-kata itu tak akan pernah terucap dari bibirnya. Tinggal bersamanya beberapa hari ini membuatku sangat memahami jiwanya. Ia tidak akan pernah meminta.

Sejenak aku terpekur diam. Tak berdaya. Akhirnya kuputuskan untuk mandi dulu, berharap guyuran air di kepalaku membuatku berpikir lebih jernih. Tapi ternyata tidak. Tetap saja kebimbangan menggelayut kuat di dalamku. Terlebih saat kusentuh kelembutan kain baju yang tadi disodorkannya. Tidak tega aku memakainya. Ini adalah baju yang dia siapkan untuk pasangan hidupnya.

Apakah itu aku?

Tak terjawab.

Perlahan aku pakai juga baju itu. Heran. Ukurannya tepat. Bahkan hingga panjang kaki dan lekukan kerung lengan yang pas. Sebuah kebetulan yang menyesakkan dada.

Ragu aku keluar dari kamar. Langkahku terhenti di pintu depan, saat kulihat perempuan itu duduk termenung di kursi teras. Berkas cahaya matahari pagi menerpa tubuhnya, menyajikan profilnya yang khas. Rambutnya tersanggul kecil, rapi. Hidungnya tak begitu mancung, tapi bentuknya sesuai dengan bulat wajahnya. Kulihat postur tubuhnya membungkuk lemah. Ringkih. Aku bisa merasakan dalam dirinya bergejolak perasaan yang tak menentu. Haru biru.

Ia seperti menyadari kehadiranku. Kulihat tubuhnya menegak. Rupanya, ia berusaha menutupi kerapuhannya. Sayang, aku sudah melihatnya, dan itu membuatku semakin terpojokkan dalam dilema. Dilema paling besar dalam hidupku: tinggal atau pergi.

Ia menegok ke arahku. Tatap matanya seperti terpukau atas sesuatu. Mungkin karena baju ini. Mungkin karena aku.

Tak terasa kedua tanganku terulur, menantikannya. Aku lihat setitik keraguan di matanya, tapi ia kemudian beranjak dan menyambut tanganku. Kugenggam kedua tangannya lembut. Aku mencoba merasakan getaran-getaran darinya. Ada. Getaran itu ada. Semakin aku tatap ia. Kujenguk hatinya. Benarkah ia menginginkanku pergi?

Ia menggangguk…

“Kau mau aku pergi?”

Ah, keluar juga suaraku.

“Katakanlah. Kau mau aku pergi?”

Aku ingin ia menjawabnya lugas. Tapi perempuan itu justru segera menunduk, menyembunyikan wajahnya. Ya, sesaat tadi sempat kulihat setetes air di ujung matanya. Aku sentuh dagunya, kuhela lembut hingga ia menatapku.

Kulihat bibirnya bergetar menahan tangis.

“Hhh…. Aku hanya tahu, kau sekian lama menantinya. Ini akhir penantianmu itu,” jawabnya terbata-bata setelah cukup lama diam.

Hhhh… jadi dia ingin aku pergi. Jadi lah. Hatinya telah tertutup untukku bukan?

Sejenak berlalu. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Bahkan saat ia menggandeng tanganku, melangkah bersama ke ujung jalan, aku masih berusaha memahami sikapnya.

Aku telah menyakiti hatinya. Aku telah membiarkannya masuk dalam hatiku dan mengetahui setiap perasaanku. Aku memang tak ingin menutupinya. Aku tak ingin berbohong kepadanya. Tak ada untungnya membohongi dirinya, bahwa masih ada keinginanku menemukan jawaban siapa dan seperti apa gadisku. Sepanjang hidupku aku akan terus penasaran sebelum menemukannya.

Inilah saat itu.

Saat langkah kami terhenti tepat di depan gadis itu, sebuah kesempurnaan tersaji tepat, persis, seperti gadis di benakku. Posturnya, kulitnya berpendar terpapar mentari. Dadaku berdegup. Sebuah jawaban yang aku tunggu sepanjang hidupku ada di depanku. Aku terpukau. Ia bukan di awang-awang lagi. Ini bukan tataran mimpi. Matanya yang lebar mengamatiku, selayak aku mengamatinya pula. Bibirnya tersenyum menyambutku. Entah, senyumnya begitu membuaiku. Sejak lama hatiku telah tertambat padanya. Ia seperti menyadari itu. Ia rentangkan tangannya, dan tanpa kusadari siapa yang memulai, kami telah berpelukan sangat erat.

Aku seperti terbius oleh sejuta keindahan. Lupa sekelilingku, bahkan perempuan itu.

Ikatan di hatiku seperti terlepas. Kelegaan membanjiri setiap relungnya. Kelegaan bahwa aku selama ini tidak mengada-ada. Bahwa memang ada jawaban dari setiap upayaku atas penantianku. Aku terbuai, melayang.

“Pergilah.”

Sehembus suara lirih menyadarkanku, mengembalikan kakiku, menginjak bumi. Suara perempuan itu. Suara yang mampu mengembalikan kesadaranku, mengembalikanku pada dua pilihan hati yang luarbiasa sulit.

Kulepaskan pelukan gadisku.

Aku mundur selangkah, mengambil jarak dari mereka berdua. Aku menatap mereka bergantian: Kemudaan dan kematangan. Impian dan kenyataan. Jawaban dan pertanyaan baru.

Kutelan sebuah kenyataan, keluasan hatiku tak mampu menelaah semua ini.

Aku beku.

Kubiarkan gadis itu menuntunku, menjauh, meninggalkan perempuan itu.

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

Catatan Penulis:
Untuk memahami cerita ini, aku sarankan kalian baca dulu “Laki-laki Itu”

June 18th, 2008

Otakku Beku

Posted by ilalang in Kabar Ilalang

Hari ini otakku beku, tak mampu kuajak berpikir dan menulis. Bahkan ketika kupaksa sekalipun. Tokoh-tokoh cerita ini, laki-laki dan perempuan itu seperti menjauh, jijik dengan diriku.

Beri aku waktu untuk menyendiri sementara waktu. Relakan aku menghilang sebentar. Semoga mereka mau kembali ke pangkuanku.

June 15th, 2008

Risau [9]

Posted by ilalang in Perempuan Itu

Kegamanganku terbelah dalam dua polaritas yang saling bertentangan. Aku menjadi begitu perasa. Sering melamun, memikirkan ketidakberdayaan hatiku menyikapi masalah ini.

Aku ini laki-laki. Seharusnya otakku yang menuntunku, tapi kenapa hatiku yang meraja?

Aku ini orang bebas. Semestinya aku berhak mengambil keputusan apa saja; tinggal dengan perempuan itu, atau mencari gadisku. Tapi, kenapa aku jadi begitu ragu?

Detik berlalu sangat lambat.

Kalian tahu apa yang membuatku begitu merana?

Perempuan itu.

Dia menanyakan kepadaku, siapa yang aku tunggu. Aku yakin dia sudah mengetahuinya. Dia berpura-pura tidak mengetahuinya. Dia hanya minta aku menjawabnya. Dan aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Itu akan menyakitinya. Biarlah aku berpura-pura tidak tahu bahwa ia sudah menjenguk relung hatiku yang paling dalam, dimana gadisku berada.

Semalam ia menyerah. Sambil memelukku, ia mengatakan akan membantuku mencari gadisku.

Gila. Sinting. Tidak masuk akal.

Untuk apa dia mengatakan itu? Bukankah aku laki-laki yang dinantikannya? Kenapa dia berkeras mengatakan akan ikut mencari gadisku. Untukku. Bukankah ia seharusnya justru minta aku untuk berhenti mencari, dan tinggal dengannya. Untuk kebahagiaannya?

Sebersit jawaban melintas di benakku, membuatku menggigil… hhh… dia… dia…

Aku tak kuasa menahan beban emosi di dadaku. Airmataku runtuh tak bisa kubendung. Tubuhku demam. Kupeluk dia. Kusembunyikan wajahku di hangat dadanya. Tak sanggup aku menatap matanya yang begitu dalam dan penuh pengertian itu. Aku, cuma bisa menangis.

Malam itu mimpiku absurd. Ribuan cahaya berguratan tak beraturan. Tak ada bentuk solid sedikitpun yang bisa aku terjemahkan. Aku biarkan diriku tenggelam dalam lautan cahaya, hangat, dingin, bergantian membuai. Ragaku melayang setiap kali cahaya-cahaya itu berkelebatan halus, hingga sebentuk cahaya mengulas pipiku, usapannya yang hangat membangunkanku.

Aku buka mata, aku lihat seraut wajah menatapku lembut. Perempuan itu. Aku lihat ekspresinya yang tidak biasa. Aneh. Ada kelegaan, tapi sekaligus terkandung perih luarbiasa. Aku menatapnya bertanya.

“Seseorang menunggumu,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Semula aku tak tahu apa maksud perkataannya, hingga otak membangunkan seluruh kesadaranku. Aku tercekat. Dadaku berdegup kencang.

Gadisku datang?

Suaraku hilang. Aku menatapnya tak percaya. Aku bahkan tak sadar telah mencengkeram lengannya untuk mendapatkan jawaban.

“Ia menunggumu, di ujung jalan.”

Aku tak sanggup lagi mencerna kata-katanya. Otakku, hatiku, seluruh inderaku terpaku pada sebuah kenyataan bahwa gadisku memang ada. Wujud. Dia ada di ujung jalan, menungguku. Darahku berdesir kencang, bersicepat terpompa jantung. Ingin rasanya segera beranjak dari tempat tidur itu dan keluar untuk melihatnya. Melihat sebuah mimpi yang sekian lama menghantuiku terwujud. Sebuah kenyataan yang semula tak aku yakini ada. Kugeleng-gelengkan kepalaku agar lebih bisa menerima kenyataan itu. Ya. Aku harus menemuinya… harus…

Tapi… tubuhku serasa tertahan… perempuan ini… aku tidak tega meninggalkannya. Aku sangat memahami perasaannya.

Aku menatapnya. Aku mencoba menjenguk hatinya. Aku lihat ia berusaha mengendalikan diri, berusaha tersenyum, sementara aku tahu hatinya gamang luarbiasa.

“Ya, kau akan menemuinya. Kau bisa pergi bersamanya. Tapi, boleh aku minta sesuatu darimu?”

Aku menengarai ia akan mengatakan sesuatu.

“Mandilah, dan pakailah pakaian ini,” ujarnya sambil berdiri. Dia beranjak dan mengambil kotak di atas lemari. Aku tahu persis isinya apa.

Aku menatapnya tidak mengerti. Bukankah baju ini sangat sakral untuknya? Kenapa ia memintaku memakainya?

“Aku ingin kau siap menemuinya. Bergegaslah. Mandi. Siapkan dirimu. Aku menunggu di teras.”

Kali ini, kudengar suaranya begitu tenang. Sangat tenang. Aku bahkan tidak menangkap getarannya yang sesaat tadi sempat muncul. Ia ingin aku pergi. Sepertinya begitu. Hanya itu satu-satunya jawaban yang bisa kutelaah saat ini. Aku tidak diharapkan ada di sini. Dia ingin aku benar-benar pergi. Selamanya.

Kurasakan nyeri di ulu hatiku…

Telak.

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

Catatan Penulis:
Untuk memahami cerita ini, aku sarankan kalian baca dulu “Laki-laki Itu”

Next Page »
  • Monthly

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web